Tawur Agung sebagai Lambang Penyucian
Ribuan
umat Hindu dari berbagai daerah di Indonesia mengikuti puncak upacara Tawur
Agung dalam rangka peringatan Nyepi di pelataran timur Candi Prambanan.
Prosesesi
Tawur Agung di mulai dari Candi Ratu Boko dengan prosesi mendak tirta yang
dipimpin oleh Pedande, dilanjutkan mereka berjalan kaki menuju komplek Candi
Prambanan. Sembari
membawa air suci dari Candi Boko, para pemangku
pura melakukan Pradaksina dengan mengelilingi Candi Shiwa selama tiga putaran.
Pradaksina prosesi penyucian air sebelum didoakan. Sementara umat hindu membawa
sesaji yang dibawa
dari rumah masing-masing berisi berbagai makanan dan buah-buahan lalu diletakkan di meja
panjang di pelataran candi.
Selanjutnya umat Hindu yang sebagian besar
mengenakan busana khas Bali melakukan
persembahyangan, dipimpin oleh Pedande Putra Telabah. Dengan khidmat sambil meletakkan kedua tangan
tertelungkup di dahi, ribuan umat hindu duduk bersila, mata tertutup, lalu
melafalkan doa-doa persembahan. Usai berdoa, pemimpin pura mengambil tirta suci
yang telah didoakan. berjalan berkeliling ke beberapa penjuru
pelataran untuk memercikkan tirta suci ke ribuan umat yang hadir.
Selain itu dalam pelaksanaan peringatan nyepi juga disajikan Tari Barong yang
menggambarkan Tawur Agung Kesanga dan Tari Ogoh-ogoh yang melambangkan hawa
nafsu dan angkara murka. Dengan demikian diharapkan agar Hari Raya Nyepi ini menjadi
momen untuk menyucikan diri bagi umat hindu.
Sementara untuk penyepian dilakukan sebagai salah
satu bentuk penyucian diri dengan tidak menyalakan api (amati geni), tidak
bekerja (amati karya), tidak bepergian (amati lelungan) dan tidak
bersenang-senang (amati lelanguan). Selama sehari penuh umat Hindu diwajibkan
untuk meditasi dan introspeksi diri.
Purwanto salah seorang tokoh masyarakat yang kebetulan sedang
berkunjung ke Candi Prambanan mengatakan dalam memperingati upacara Nyepi
diharapkan agar kita bangsa Indonesia khususnya umat Hindu untuk tetap
meningkatkan dan mempererat kerukunan antarumat beragama. Apa yang diajarkan
dalam agama hindu harus mengakar kuat dan diterapkan dalam kehidupan
sehari-hari. Bangsa Indonesia, masih
membutuhkan ruang mediasi untuk menjalin tali persaudaraan. Selain itu, para
pemimpin dan pemuka agama juga harus menjadi teladan bagi masyarakat dan
umatnya.(yub)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar